Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan FATETA-IPB berdiri berdasarkan SK Rektor IPB No.001/I3/OT/2008 tanggal 21 Januari 2008 dan menawarkan Mayor SIL

iTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShowiTech SlideShow
Selamat Datang di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
SEPAK TERJANG DEP. TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN DALAM PELATIHAN SRI ORGANIK PDF Print E-mail

Pendayagunaan sumberdaya air, termasuk untuk bidang pertanian, merupakan salah satu bidang kajian di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (SIL IPB). Salah satu metode pendayagunaan sumberdaya air, khususnya di sawah produksi padi, yang saat ini tengah dikaji secara mendetail di SIL IPB adalah System of Rice Intensification (SRI). Untuk memahami mengenai dasar dari pertanian dengan metode SRI tersebut, maka SIL IPB mengirimkan delegasinya selama tiga tahun berturut-turut dalam pelatihan pertanian SRI organik di Nusantara Organic SRI Center (NOSC) Nagrak, Sukabumi. Pelatihan SRI organik di Nusantara Organic SRI Center (NOSC) Nagrak, Sukabumi dikemas secara apik dengan metode pembelajaran aktif dimana terdapat penekanan pada kegiatan diskusi, tinjauan kritis dan partisipasi aktif. Materi pelatihan disampaikan oleh beberapa pelatih yang sangat berpengalaman dengan teknik komunikasi yang menarik, sehingga mereka tidak membosankan dan mudah dimengerti oleh para peserta. Materi tersebut meliputi pengenalan NOSC dan SRI, permasalahan pertanian dan lingkungan, sistem ekologi tanah (fisika tanah, biologi tanah, dan kimia tanah), pengenalan bahan-bahan organik dan pengaruhnya terhadap tanah, pembuatan kompos, pembuatan pestisida dan pupuk (MOL), serta praktek penanaman SRI sistem dangkal di demplot yang telah disediakan. Pada tahun pertama, melalui pendanaan oleh RIHN-IPB dikirimkan 9 (sembilan) orang delegasi pada pelatihan di NOSC (28-31 Mei 2012) yang terdiri dari tim peneliti dari IPB (Andik Pribadi, STP, MSi dan Sutoyo, STP, MSi) serta petani-petani dari Saba dan Jeneberang. Petani-petani tersebut merupakan petani yang akan menerapkan metode SRI pada plot percobaan dari proyek penelitian IWRM (Integrated Water Resource Management) SIL IPB di DAS Saba Bali dan DAS Jeneberang Sulawesi Selatan. Pada tahun kedua, melalui pendanaan oleh RIHN-IPB pula kembali dikirimkan 5 (sembilan) orang delegasi pada pelatihan di NOSC (7-10 Oktober 2013) yang terdiri dari Dr. I Wayan Budiasa dan petani plot percobaan proyek penelitian IWRM SIL IPB di Bali. Dari pelatihan tersebut diharapkan penerapan metode SRI di sawah padi di Bali semakin baik. Sedangkan pada tahun ketiga, SIL IPB kembali mengirimkan 6 delegasi (Dr.Ir. Roh Santoso Budi Waspodo, MT; Dr. Rudiyanto, STP, MSi; Dr. Slamet Widodo, STP, MSc; Nurfaijah, STP; Oktari Ega S, STP; dan Nur Aini Iswati Hasanah, ST) ke pelatihan SRI Organik di NOSC (24-26 Mei 2014). Delegasi di tahun ketiga ini akan mempraktekkan secara langsung penanaman padi SRI di Pusat Penelitian SRI IPB yang akan segera didirikan. Secara umum, delegasi yang dikirim SIL IPB diharapkan mampu membawa paradigma baru untuk kemudian dikembangkan sebagai bahan riset atau pun sebagai salahsatu perwujudan tri darma perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, SRI organik akan semakin berkembang dan secara signifikan mampu berkontribusi bagi pertanian Indonesia. Salam SRI, More Rice, Less Water! (/Aini/Ega/Faijah)

 

 
IPB touts zero runoff system to reduce floods PDF Print E-mail

In an effort to reduce the risk of flooding nationwide, Prof. Budi Indra Setiawan of the Bogor Institute of Agriculture (IPB) in West Java trumpeted on Thursday the benefits of the Zero Runoff System (Zros).

Budi said the use of Zros would help minimize flooding in problematic areas by eliminating puddles of water on roads as soon as the rain stopped.

He added that the system would have three features: reducing the upstream flow of water, increasing the absorption rate of soil, and preventing surface water runoff.

“Essentially, in Zros, water lines will be constructed on a particular road in such a way that the soil will be able to absorb puddles of rainwater on the street,” he said, adding that the water lines would be constructed according to the area’s water density.

Budi, who is a professor in the institute’s civil and environmental engineering department, said that Zros was founded in 2008, and had been successfully installed in several areas around the country.

He cited a star fruit plantation in Depok, West Java, as a particularly encouraging success story. There, installation of the Zros system not only stopped flooding during the rainy season, it also increased crop yields because the soil was kept damp during the autumn months.

Zros has been successfully installed in other locations, including at a nutmeg plantation in Aceh, and in the Cidanau watershed in Banten, West Java — an area inhabited by hundreds of residents.

Budi said that Zros should be installed in many areas as part of the solution to fight persistent flooding.

“We are currently planning to install Zros at the IPB’s Darmaga campus, an area that suffers from problematic surface water runoff,” Budi said.

In Jakarta, Budi said that flash flooding occurred because most of the city’s drainage system had not been constructed to accommodate heavy rains.

Infrastructure deficiencies have thus generated “multidimensional problems”, he said, all of which required immediate attention.

“We hope that developers and construction firms will take advantage of Zros,” he added.

Budi said that Zros would be a much cheaper and speedier alternative to the construction of reservoirs. He pointed to the protracted effort at the Ciawi

Reservoir in Bogor, West Java, as an example, where a host of obstacles, including land acquisition disputes, have hampered completion.

“Constructing Zros is not expensive [compared to a reservoir]. It also doesn’t require large-scale land acquisitions. All it needs is a commitment from the government to socialize the concept to citizens,” Budi said, adding that Zros could save the government money.

In addition, he said, the system would mitigate the effects of drought in places like eastern Indonesia by helping to keep the soil moist.

 

http://www.thejakartapost.com/news/2014/06/07/ipb-touts-zero-runoff-system-reduce-floods.html

 
Guru Besar IPB Sumbang Solusi Kebakaran Hutan PDF Print E-mail

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia sudah berlangsung sejak beberapa abad yang lalu dan mencapai puncaknya ketika kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Timur pada 1982/1983 yang menghanguskan sekitar 3,6 juta hektar hutan dan lahan. Kebakaran terjadi lagi pada tahun 1994 dengan luas sekitar 5,11 juta hektar, pada 1997/1998 sekitar 10-11 juta hektar, pada 2006 sekitar 6 juta hektar, dan terus terjadi hingga hari ini dengan dampak negatif yang mengkhawatirkan. Sejak awal 1970-an, Institut Pertanian Bogor (IPB) terus mengikuti perkembangan dan berupaya menyumbang saran pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui bidang pendidikan melalui pengajaran mata kuliah Perlindungan Hutan dimana di dalamnya terdapat materi kebakaran hutan.

Seiring waktu peran serta IPB melalui Fakultas Kehutanan dalam pengendalian kebakaran hutan kian meningkat.  Ini terungkap dalam Coffee Morning yang dilaksanakan di Executive Lounge, Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (10/4). Kegiatan ini mendatangkan beberapa narasumber diantaranya: Prof. Yanto Santosa (Guru Besar Ekologi dan Manajemen Satwa Liar, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB), Prof. Bambang Hero Saharjo (Guru Besar Perlindungan Hutan, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB), dan Prof. Budi Indra Setiawan (Guru Besar Hidrologi Departemen Teknik Sipil, dan Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian IPB) memaparkan topik “Solusi IPB untuk Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.”

Ini salah satu bentuk kepedulian IPB dalam memberikan solusi terbaik terhadap persoalan bangsa yakni pengendalian terhadap kebakaran hutan dan lahan yang  terjadi setiap tahun. Prof. Bambang dalam kesempatan ini memaparkan tentang kondisi kebakaran hutan dan lahan di Riau pada 2013-2014. Selain itu, Prof. Bambang  juga memaparkan solusi yang telah dilakukan. “Selama ini semak dan rumput ditebas dan dibakar sehingga mengepulkan asap. Sekarang kita memanfaatkan semak dan rumput menjadi pakan. Kita memasukan inovasi IPB dimana rumput  bisa untuk pakan ternak dan bertahan selama dua bulan. Satu hektar bisa 50 ton. Ini bisa membantu program swasembada sapi yang sedang dicanangkan pemerintah. Ini sudah dilakukan di Sumatera Selatan. Fesesnya diolah dengan alat sederhana dan menghasilkan biogas. Sementara urinnya bisa dijadikan pupuk. Jadi  biogasnya bisa menyalakan listrik dan kompor,” kata Prof. Bambang.

Prof. Budi Indra Setiawan memaparkan, lokasi kebakaran tersebar tidak hanya di perkebunan sawit dan hutan tanaman industri, tapi juga kawasan lindung dan konservasi baik di lahan kering maupun di lahan basah. “IPB menawarkan strategi pengelolaan hutan dan lahan bergambut untuk produksi biomassa lestari. IPB menginginkan bagaimana produksi biomassa dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Produksi ini dilakukan salah satunya dengan cara memaksimalkan pendaman karbon, partisipasi masyarakat, dan kemitraan dengan pemangku kepentingan. Nantinya ini akan berkontribusi pada peningkatan pendapatan, kesehatan dan pendidikan yang menjadi tolak ukur IPM,” kata Prof. Budi Indra.

IPB telah mempunyai konsep dan strategi untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta akan segera meresmikan pusat kajian lintas disiplin guna menyelesaikan permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Prof. Yanto Santosa menegaskan, “Menurut IPB pencegahan jauh lebih penting daripada penanggulangan. Oleh karena itu, IPB akan mendirikan sebuah pusat. Pusat ini akan melibatkan berbagai disiplin ilmu di IPB. Tujuan utama pusat ini adalah menemukan, mengembangkan serta menyebarluaskan konsep, strategi, dan pedoman pengendalian kebakaran hutan serta lahan yang meliputi aspek pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan lingkungan biofisik pasca kebakaran.” (RF

 
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB Gelar Internasional Workshop Perubahan Iklim dan Dampaknya bagi Pertanian di Asia PDF Print E-mail

Perubahan iklim sangat dirasakan oleh masyarakat dunia saat ini. Fenomena alam seperti banjir, kekeringan, gempa bumi, taifun dan sebagainya telah dirasakan sebagai akibat dari perubahan iklim saat ini. Perubahan iklim tersebut telah mempengaruhi aktifitas manusia diberbagai bidang termasuk pertanian. Sebagai wujud kontribusi untuk mencari solusi adaptasi perubahan iklim,  Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB (SIL) bekerjasama dengan The University of Tokyo, Jepang menyelenggarakan Internasional Workshop tentang perubahan Iklim yang ketiga dengan tema “Climatic Changes and Evaluation of Their Effects on Agriculture in Asian Monsoon Region”, di Sanur, Denpasar – Bali dari tanggal 17-19 Maret 2014. Acara yang dibuka oleh Kepala LPPM IPB, Dr. Prastowo ini merupakan rangkaian kegiatan kerjasama penelitian dalam kerangka Green Network of Excellent environmental information (GRENE-ei) yang dimulai sejak tahun 2011. GRENE-ei merupakan project yang disupport oleh kementrian pendidikan Jepang selama 5 tahun sebagai sarana bagi peneliti untuk mencari solusi adaptasi terhadap perubahan iklim khususnya dampaknya bagi pertanian di Asia. Pada tahun 2014 ini Departemen SIL IPB sebagai tuan rumah mengundang peneliti dari berbagai negara diantaranya Indonesia, Jepang, Thailand, Filipina, Vietnam, China dan USA untuk memaparkan hasil penelitian mereka dalam upaya mencari strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. “Internasional workshop ini merupakan wujud nyata dari peran Departemen SIL dalam menyikapi perubahan iklim yang terjadi sekaligus sebagai sarana membentuk jejaring kerjasama Internasional dengan institusi di luar negeri”, kata Prof. Budi Indra Setiawan, Ketua Departemen SIL IPB.  Dalam kesempatan ini, Departemen SIL mengirimkan 4 orang staf pendidik untuk mempresentasikan hasil-hasil penelitiannya diantaranya, Dr. Chusnul Arif, dengan judul presentasi “Land and water productivities of paddy field with different water management regimes under system of rice intensification (SRI) in Indonesia, Prof. Budi Indra Setiawan dengan judul: “Change of Tropical Peat Properties due to Forest Fire” Dr. Satyanto K. Saptomo, “Measurement CO2 emission from tropical peat”, Dr. Yudi Chadirin, “Measurement CO2 emission from mineral soil”. Acara workshop ditutup dengan kegiatan kunjungan lapang dengan mengunjungi ke museum subak untuk mengetahui sejarah dan pelaksaaan irigasi subak di Bali serta mengunjungi pengelolaan sawah sistem teras di Jatiluwih di Tabanan Bali (CHA, YCH).

 
Kunjungan MAS SRI ke SIL IPB PDF Print E-mail

Pada hari Jumat 7 Feb 2014, Masyarakat SRI Malaysia (SRI-MAS) melaksanakan kunjungan ke Departemen SIL IPB. Kunjungan ini dilaksanakan  dalam rangka menjalin persahabatan dan kerjasama pengembangan SRI. Rombongan SRI-MAS dipimpin Prof. Dr. Wan Mohtar Wan Yusoff. Selain dilakukan diskusi pengalaman SRI di kedua negara, juga dilakukan penandatangan MOU antara SRI-MAS dan Ina-SRI yang mulai Tahun 2014 ini diketuai Prof.Dr. Budi Indra Setiawan.

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Page 1 of 3